Category: Sosial dan Budaya

Berita Terkini: Sejumlah Oknum Bubarkan Tradisi Sedekah Laut di Yogyakarta

Pelaksanaan Tradisi Sedekah Laut di Bantul, Yogyakarta pada hari Jumat, 10 Oktober 2018 dilarang oleh oknum yang merusak property acara. Berita terkini hari ini pihak kepolisian telah mengamankan 9 saksi berkaitan kasus perusakan property tersebut. Tentunya semua pihak sangat prihatin dengan aksi tersebut karena mencederai kearifan dan budaya lokal yang ada.

Sebenarnya, ada banyak sekali budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta mulai dari seni Pertunjukkan hingga tradisi budaya. Memang, belum ada referensi yang menerangkan sejak kapan tradisi Labuhan mulai dilakukan. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat meneruskan tradisi ini mengacu pada kerajaan Mataram sebelumnya yang merupakan kerajaan Islam.

Pada abad 16 Masehi, kerajaan Mataram sudah berdiri di tanah Jawa. Awalnya pusat kerajaan Mataram berada di wilayah Kota Gede, Yogyakarta. Tetapi karena Belanda terus melakukan ekspansi, pusat kerajaan Mataram pun dipindahkan ke Kerta, Plered, Kartasura dan juga Surakarta. Saat munculnya perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, Kerajaan Mataram dipecah menjadi 2 yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta.

Budaya yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama Yogyakarta adalah sarana ungkapan syukur yang hampir sama dengan masyarakat lainnya. Masyarakat Jawa yang beragama Islam bahkan menyelipkan tradisi seperti  sodakohan atau memberikan sedekah dalam perayaan agama Islam. Orang Jawa sendiri tentu juga harus memahami budaya Jawa.

Adanya tradisi yang dilakukan di Jawa itu menjadi tanda bahwa orang Jawa merupakan orang yang religius. Diharapkan dalam tradisi tersebut antara budaya dan agama dapat berjalan secara beriringan. Sebagai contoh dalam kebiasan makan. Dari segi agama, orang wajib berdoa sebelum makan. Sementara itu sisi budaya mengajarkan sikap seseorang saat makan misalnya cara duduk. Sri Sultan HB IX juga menyatakan jika adat istiadat Keraton tidak merugikan masyarakat perlu tetap dilaksanakan misalnya tradisi Grebeg.

Pembubaran paksa Sedekah Laut yang dilakukan kemarin sudah termasuk aksi tindakan kriminal hingga menjadi berita terkini yang ramai diperbincangkan. Pasalnya massa yang membubarkan acara tersebut menggunakan cara-cara kekerasan, termasuk mengancam penyelenggara. Sedekah Laut sendiri juga termasuk tradisi yang tidak mengganggu orang. Selain Sedekah Laut, ada pula tradisi lain yang sejenis seperti Sedekah Kali, Sedekah Gunung, dan lainnya. Semua kegiatan tersebut sebenarnya memiliki tujuan yang baik yaitu sebagai ungkapan rasa syukur.

Dari berita terkini hari ini menurut Arie Sujito, Sosiolog UGM, pembubaran tradisi sedekah laut ini disebabkan karena adanya perbedaan interpretasi budaya antar kelompok. Beberapa kelompok menilainya sebagai budaya atau tradisi. Tetapi kelompok lain mempunyai penafsiran yang berbeda.

Selain di Yogyakarta, di provinsi lain juga terdapat tradisi sejenis. Di Makassar misalnya terdapat tradisi bernama Tuturangiana Andala. Di Trenggalek juga terdapat tradisi serupa bernama Sembonyo. Di beberapa daerah lain pun menggelar tradisi yang mirip dan memiliki tujuan yang tidak jauh berbeda. Oleh sebab itu, aksi pengrusakan properti tradisi Sedekah Laut di Pantai Baru, Bantul, Yogyakarta yang menjadi berita terkini kemarin sangat disayangkan oleh banyak pihak. Bahkan dalam berita hari ini banyak para tokoh penting yang angkat bicara terkait hal ini.